Suatu hari, beberapa tokoh masyarakat dari sebuah desa datang sowan kepada Mbah Chudlori. Mereka membawa persoalan yang hampir memecah masyarakat. Desa memiliki bondo desa. Sebagian warga mengusulkan agar dana itu digunakan untuk membangun masjid. Sebagian yang lain menginginkan membeli seperangkat gamelan.
PIDATO KEBUDAYAAN
Peradaban Selalu Lahir dari Desa
Pidato Kebudayaan Festival Lima Gunung 2026
Disampaikan oleh KH Muhammad Yusuf Chudlori
Para sesepuh, para kiai, para seniman, para petani, para budayawan, para tamu, dan seluruh keluarga besar Festival Lima Gunung yang saya muliakan.
Izinkan saya mengawali pidato ini dengan sebuah kisah yang telah lama hidup di tengah masyarakat lereng Merapi dan Merbabu. Sebuah kisah yang pernah diceritakan kembali oleh almarhum Gus Dur ketika mengenang guru beliau, KH Chudlori Tegalrejo.
Suatu hari, beberapa tokoh masyarakat dari sebuah desa datang sowan kepada Mbah Chudlori. Mereka membawa persoalan yang hampir memecah masyarakat. Desa memiliki bondo desa. Sebagian warga mengusulkan agar dana itu digunakan untuk membangun masjid. Sebagian yang lain menginginkan membeli seperangkat gamelan.
Semua tentu menduga seorang kiai akan berkata, “Bangunlah masjid terlebih dahulu.”
Namun Mbah Chudlori justru berkata,
“Belilah gamelan lebih dahulu.”
Orang-orang terdiam. Mereka tidak mengerti mengapa seorang ulama memilih gamelan.
Lalu beliau menjelaskan dengan sangat sederhana,
“Kalau masyarakat sudah rukun karena gamelan, nanti masjid akan dibangun bersama-sama.”
Dan begitulah yang terjadi.
Setelah gamelan menjadi milik bersama, masyarakat kembali berkumpul, kembali saling menyapa, kembali bergotong royong. Persaudaraan yang sempat retak perlahan pulih. Tidak lama kemudian, dengan tangan-tangan yang sama, masjid pun berdiri.
Saudara-saudaraku,
Yang dibangun Mbah Chudlori hari itu sesungguhnya bukan gamelan.
Yang beliau bangun adalah kerukunan.
Karena beliau memahami bahwa masjid dapat dibangun dengan batu, pasir, dan semen. Tetapi kehidupan bersama hanya dapat dibangun oleh rasa saling percaya.
Hari ini, ketika saya berada di Festival Lima Gunung, saya merasa sedang menyaksikan kembali kebijaksanaan itu hidup di hadapan kita.
Di sini kita tidak hanya menyaksikan kesenian.
Kita sedang menyaksikan sebuah masyarakat yang memilih tetap hidup bersama.
Petani menjadi seniman.
Seniman tetap menjadi petani.
Rumah-rumah terbuka menyambut tamu.
Dapur-dapur desa mengepul untuk menjamu siapa saja yang datang.
Tidak ada sekat antara panggung dan penonton.
Tidak ada tiket untuk menikmati kebersamaan.
Yang ada hanyalah ketulusan masyarakat desa yang menjadikan kebudayaan sebagai cara memuliakan sesama.
Festival Lima Gunung telah berlangsung selama lebih dari dua puluh tahun, berpindah dari desa ke desa, dari lereng ke lereng. Ia bertahan bukan karena kemewahan, bukan karena besarnya anggaran, melainkan karena gotong royong, kepercayaan, dan rasa memiliki. Yang dirawat bukan sekadar pertunjukan, melainkan kehidupan masyarakat itu sendiri.
Barangkali inilah yang mulai jarang kita temukan hari ini.
Kita sering mengukur kemajuan dari gedung-gedung yang menjulang, jalan-jalan yang membentang, dan teknologi yang semakin canggih.
Padahal sejarah mengajarkan kepada kita bahwa peradaban tidak pernah lahir dari beton. Peradaban lahir dari manusia yang mampu hidup bersama.
Karena itu saya percaya,
Peradaban selalu lahir dari desa.
Bukan karena desa lebih sederhana.
Tetapi karena desa masih menjaga hal-hal yang mulai langka.
Di desa, manusia masih mengenal tetangganya.
Masih mengenal tanah tempat ia berpijak.
Masih menghormati orang tua.
Masih bergotong royong.
Masih percaya bahwa kebahagiaan tidak harus dimiliki sendiri.
Saudara-saudaraku,
Tema Festival Lima Gunung tahun ini adalah “Goblok Bareng.”
Saya tidak membacanya sebagai ajakan menjadi bodoh.
Saya membacanya sebagai sebuah satire yang mengajak kita bercermin.
Di tengah banjir informasi, jangan sampai kita kehilangan akal sehat.
Di tengah hiruk-pikuk kepentingan, jangan sampai rakyat terus-menerus menjadi objek untuk dibodohi.
Di tengah kemajuan zaman, jangan sampai kita melupakan kebijaksanaan desa yang mengajarkan bahwa masyarakat yang rukun selalu lebih kuat daripada masyarakat yang saling mengalahkan.
Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.
Bangsa ini juga tidak kekurangan orang hebat.
Tetapi bangsa ini akan kehilangan masa depan apabila kehilangan orang-orang yang mau merawat.
Merawat tanahnya.
Merawat budayanya.
Merawat persaudaraannya.
Merawat nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
Karena sesungguhnya peradaban bukan dibangun oleh mereka yang paling banyak menguasai, melainkan oleh mereka yang paling setia merawat.
Petani merawat bumi.
Seniman merawat rasa.
Kiai merawat nilai.
Dan masyarakat merawat persaudaraan.
Dari tangan-tangan yang merawat itulah, sebuah peradaban dilahirkan.
PESANTREN DAN KEBUDAYAAN: MERAWAT NILAI, MENJAGA RASA
Saudara-saudaraku,
Kisah Mbah Chudlori tadi sesungguhnya mengajarkan kepada kita bahwa agama dan kebudayaan tidak perlu dipertentangkan.
Yang dipilih beliau bukan antara masjid atau gamelan.
Yang dipilih adalah jalan yang paling mampu merawat persaudaraan.
Karena beliau memahami bahwa agama hadir untuk memuliakan manusia. Dan manusia hanya dapat dimuliakan apabila hidup dalam kerukunan.
Sejarah bangsa ini pun mengajarkan hal yang sama.
Islam datang ke Nusantara bukan dengan menghapus kebudayaan, tetapi dengan berdialog dengannya.
Para Walisongo tidak memulai dakwah dengan memutus akar masyarakatnya. Mereka justru menjadikan bahasa, kesenian, tradisi, dan kebijaksanaan lokal sebagai jembatan untuk menghadirkan nilai-nilai Islam yang penuh kasih sayang.
Karena itu, ketika kita mendengar gamelan berbunyi, melihat wayang dipentaskan, menyaksikan jatilan, atau merasakan hangatnya tradisi desa, jangan terburu-buru melihatnya sebagai sekadar kesenian.
Di dalamnya ada ingatan.
Ada sejarah.
Ada nilai.
Ada cara sebuah masyarakat menjaga dirinya agar tetap menjadi manusia.
Di sinilah saya melihat pesantren memiliki peran yang sangat penting.
Pesantren bukan hanya tempat mengajarkan ilmu agama.
Pesantren adalah tempat merawat akhlak.
Tempat menanamkan adab.
Tempat membentuk manusia agar mampu hidup bersama dengan penuh hormat kepada sesama, kepada alam, dan kepada Sang Pencipta.
Maka ketika pesantren bertemu dengan kebudayaan, sesungguhnya yang terjadi bukanlah pertentangan.
Yang terjadi adalah saling menguatkan.
Pesantren menjaga nilai.
Kebudayaan menjaga rasa.
Nilai tanpa rasa dapat menjadi kaku.
Rasa tanpa nilai dapat kehilangan arah.
Tetapi ketika nilai dan rasa berjalan bersama, di situlah lahir masyarakat yang beradab.
Saudara-saudaraku,
Festival Lima Gunung mengingatkan kita bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu.
Kebudayaan adalah cara kita memperlakukan kehidupan hari ini.
Cara kita menghormati orang tua.
Cara kita menerima tamu.
Cara kita bergotong royong.
Cara kita menjaga alam.
Cara kita menghargai perbedaan.
Selama nilai-nilai itu tetap hidup di tengah masyarakat, selama itu pula peradaban akan terus bertumbuh.
Karena sesungguhnya, yang diwariskan oleh para leluhur bukan hanya seperangkat gamelan, bukan hanya sebuah kesenian, melainkan sebuah cara hidup.
Dan tugas kita hari ini bukan sekadar melestarikannya.
Tugas kita adalah menghidupinya.
MERAWAT MANUSIA DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN
Saudara-saudaraku,
Hari ini dunia sedang berubah dengan sangat cepat.
Teknologi berkembang melampaui apa yang pernah kita bayangkan.
Kecerdasan buatan hadir membantu pekerjaan manusia.
Media sosial membuat dunia terasa tanpa batas.
Informasi datang setiap detik tanpa pernah berhenti.
Semua itu adalah kemajuan yang patut kita syukuri.
Tetapi di tengah kemajuan itu, ada satu pertanyaan yang harus terus kita renungkan.
Apakah manusia juga sedang bertumbuh?
Karena teknologi dapat membuat kita semakin cepat.
Tetapi belum tentu membuat kita semakin bijaksana.
Teknologi dapat membuat kita semakin dekat melalui layar.
Tetapi belum tentu membuat hati kita semakin dekat.
Teknologi mampu menyimpan miliaran data.
Tetapi tidak mampu menggantikan kasih sayang, empati, dan ketulusan yang hidup di tengah masyarakat.
Maka tantangan terbesar bangsa ini sesungguhnya bukan hanya mengejar kemajuan.
Melainkan memastikan bahwa kemajuan itu tetap memuliakan manusia.
Di sinilah saya percaya desa masih memiliki pelajaran yang sangat berharga.
Desa mengajarkan kita untuk saling mengenal.
Saling membantu.
Saling menjaga.
Saling mengingatkan.
Nilai-nilai itu mungkin tampak sederhana.
Namun justru nilai-nilai itulah yang akan menjadi penyangga masa depan ketika dunia berubah semakin cepat.
Saudara-saudaraku,
Saya percaya masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya.
Tetapi juga oleh kemampuan kita menjaga akhlak.
Menjaga adab.
Menjaga rasa.
Dan menjaga persaudaraan.
Kalau kecerdasan tumbuh tanpa kebijaksanaan, kita akan melahirkan manusia yang pandai tetapi mudah memecah belah.
Kalau kemajuan tumbuh tanpa kasih sayang, kita akan melahirkan masyarakat yang maju tetapi kehilangan kemanusiaannya.
Karena itu, di tengah perubahan zaman, kita tidak cukup hanya membangun manusia yang cerdas.
Kita harus membangun manusia yang beradab.
Dan saya percaya, pesantren, kebudayaan, dan masyarakat desa masih menjadi mata air yang tidak pernah kering untuk menumbuhkan peradaban itu.
MENUMBUHKAN PERADABAN, MERAWAT MASA DEPAN
Saudara-saudaraku,
Setiap zaman melahirkan tantangannya sendiri.
Tetapi setiap zaman juga selalu melahirkan orang-orang yang memilih untuk tetap merawat kehidupan.
Petani yang setiap musim menanam tanpa pernah kehilangan harapan.
Seniman yang terus menjaga rasa ketika dunia semakin bising.
Kiai yang istiqamah merawat ilmu, akhlak, dan keteladanan.
Para ibu yang mengajarkan kasih sayang.
Para pemuda yang berani mencintai desanya.
Merekalah sesungguhnya penjaga peradaban.
Karena peradaban tidak diwariskan melalui bangunan yang megah.
Peradaban diwariskan melalui manusia-manusia yang memiliki hati, akal sehat, dan kesediaan untuk hidup bersama.
Hari ini kita berkumpul di Festival Lima Gunung.
Besok kita akan kembali ke rumah kita masing-masing.
Tetapi saya berharap, yang kita bawa pulang bukan hanya kenangan tentang pertunjukan.
Yang kita bawa pulang adalah keyakinan bahwa Indonesia akan tetap kuat selama desa-desa masih hidup.
Selama pesantren masih menyalakan ilmu.
Selama seniman masih menjaga rasa.
Selama petani masih mencintai tanahnya.
Selama masyarakat masih percaya bahwa gotong royong lebih mulia daripada saling menjatuhkan.
Marilah kita terus merawat tradisi, bukan karena kita ingin hidup di masa lalu.
Tetapi karena dari tradisi itulah kita belajar menghormati kehidupan.
Marilah kita terus menumbuhkan peradaban, bukan dengan saling mengalahkan.
Melainkan dengan saling menguatkan.
Karena sesungguhnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa maju teknologinya.
Tetapi oleh seberapa luhur budinya.
Tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi bangunannya.
Tetapi oleh seberapa kokoh persaudaraannya.
Dan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kekuatannya.
Tetapi oleh seberapa tulus rakyatnya saling merawat.
Akhirnya, marilah kita menjadi bagian dari orang-orang yang memilih merawat.
Merawat iman agar tetap menuntun kehidupan.
Merawat ilmu agar terus memberi pencerahan.
Merawat kebudayaan agar tidak kehilangan jati diri.
Merawat alam agar tetap menjadi sumber kehidupan.
Dan merawat persaudaraan agar Indonesia tetap menjadi rumah bersama bagi kita semua.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita.
Menjadikan ikhtiar kecil yang kita lakukan hari ini sebagai bagian dari ikhtiar besar merawat peradaban bangsa.