Kesaksian Penyusun

KESAKSIAN PENYUSUN Menyaksikan Sebuah Perjalanan Buku ini lahir bukan dari keinginan menulis biografi, apalagi menyusun kisah tentang seorang tokoh. Buku ini tumbuh dari sebuah ikhtiar sederhana: merawat buih-buih hikmah yang saya temukan sepanjang menyaksikan perjalanan KH Muhammad Yusuf Chudlori selama lebih dari dua puluh tahun. Saya menyadari, tidak semua perjalanan hidup harus dituliskan. Tetapi ada […]

Kesaksian Penyusun Read More »

Peradaban Selalu Lahir dari Desa

Suatu hari, beberapa tokoh masyarakat dari sebuah desa datang sowan kepada Mbah Chudlori. Mereka membawa persoalan yang hampir memecah masyarakat. Desa memiliki bondo desa. Sebagian warga mengusulkan agar dana itu digunakan untuk membangun masjid. Sebagian yang lain menginginkan membeli seperangkat gamelan. PIDATO KEBUDAYAAN Peradaban Selalu Lahir dari Desa Pidato Kebudayaan Festival Lima Gunung 2026 Disampaikan

Peradaban Selalu Lahir dari Desa Read More »

Tasawuf yang Menjelma Menjadi Kebudayaan

Dari pesantren, nilai-nilai tersebut mengalir ke desa-desa. Ia hadir dalam tradisi tahlilan, kenduri, gotong royong, ronda malam, sambatan, hingga kebiasaan sederhana menyuguhkan segelas teh hangat kepada tamu yang baru datang. Bagi masyarakat desa, semua itu mungkin hanyalah bagian dari adat yang telah dilakukan turun-temurun. Namun sesungguhnya, di balik kebiasaan-kebiasaan sederhana itu, hidup sebuah pendidikan akhlak

Tasawuf yang Menjelma Menjadi Kebudayaan Read More »

Lebih Baik Dupa yang Terbakar

Peradaban tidak hanya diuji ketika masyarakat hidup dalam keadaan tenang. Justru ukuran kedewasaan sebuah peradaban terlihat ketika ia menghadapi perbedaan. Di situlah seorang pemimpin diuji: apakah ia memperlebar jurang yang sudah ada, atau justru membangun jembatan agar masyarakat tetap dapat hidup bersama. Pengalaman seperti itu pernah penyusun saksikan ketika mendampingi KH Muhammad Yusuf Chudlori menghadiri

Lebih Baik Dupa yang Terbakar Read More »

Ketika Sebuah Gamelan Menyelamatkan Masjid

Di dalam tradisi pesantren, tidak semua persoalan dijawab dengan kalimat yang panjang. Ada kalanya sebuah keputusan sederhana justru menyimpan kebijaksanaan yang jauh melampaui zamannya. Para kiai tidak hanya membaca teks, tetapi juga membaca manusia. Mereka tidak hanya memahami hukum, tetapi juga memahami keadaan masyarakat yang sedang dihadapinya. Salah satu kisah yang sangat dikenal di lingkungan

Ketika Sebuah Gamelan Menyelamatkan Masjid Read More »

Nahdlatul Ulama Memasuki Babak Baru

Dalam perjalanan lebih dari dua puluh tahun membersamai KH Muhammad Yusuf Chudlori, penyusun menemukan bahwa nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai ajaran yang tersimpan di dalam kitab-kitab pesantren. Nilai-nilai itu hidup dalam keseharian, dalam cara memandang manusia, dan dalam laku pengabdian yang terus dijalankan tanpa banyak dipertontonkan. 1. Merawat Akar, Membaca Zaman اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ

Nahdlatul Ulama Memasuki Babak Baru Read More »

Ketika Nahdlatul Ulama Memasuki Abad Kedua

Di antara para ulama itu, berdirilah seorang alim yang kelak dikenang sebagai Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, muassis sekaligus Rais Akbar Nahdlatul Ulama. Beliau tidak hanya mewariskan sebuah organisasi, tetapi juga meletakkan fondasi berpikir bahwa agama, ilmu, cinta tanah air, dan pengabdian kepada masyarakat adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. PROLOG Ketika Nahdlatul Ulama Memasuki

Ketika Nahdlatul Ulama Memasuki Abad Kedua Read More »

KESAKSIAN PENYUSUN

Semakin lama saya menyaksikan perjalanan itu, semakin saya memahami bahwa yang sedang dirawat oleh Gus Yusuf adalah martabat manusia. Menyaksikan Sebuah Perjalanan Buku ini lahir bukan dari keinginan menulis biografi, apalagi menyusun kisah tentang seorang tokoh. Buku ini tumbuh dari sebuah ikhtiar sederhana: merawat buih-buih hikmah yang saya temukan sepanjang menyaksikan perjalanan KH Muhammad Yusuf

KESAKSIAN PENYUSUN Read More »

PERSEMBAHAN

Buku ini dipersembahkan dengan penuh hormat kepada para guru yang menyalakan ilmu, para kiai yang menjaga nilai, para seniman yang merawat rasa, para petani yang memelihara bumi, para santri yang meneguhkan tradisi, para buruh yang menggerakkan kehidupan, para mahasiswa yang menjaga daya pikir, para pedagang yang menghidupkan perekonomian rakyat, para pekerja serabutan yang tidak pernah

PERSEMBAHAN Read More »