MERAWAT TRADISI

Menumbuhkan Peradaban

KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) merupakan Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama yang dikenal melalui gagasan Merawat Tradisi, Menumbuhkan Peradaban. Melalui website ini, pembaca dapat menjelajahi buku, pemikiran, perjalanan, pidato, serta ikhtiar kebudayaan beliau dalam merawat pesantren, memperkuat kebudayaan, dan menumbuhkan kepemimpinan Nahdlatul Ulama pada abad kedua.

Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang • Tokoh Nahdlatul Ulama • Penggagas Gerakan Merawat Tradisi, Menumbuhkan Peradaban

Tradisi hidup karena dirawat, bukan sekadar diwariskan.

chatgpt image jul 11, 2026, 09 51 34 am

MANIFESTO

Mengapa Merawat Tradisi?

Tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu. Tradisi adalah cara suatu bangsa menjaga ingatan kolektif, nilai-nilai kehidupan, dan arah peradabannya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Ketika tradisi dirawat, yang sesungguhnya sedang dijaga bukan hanya warisan, tetapi juga cara manusia memahami dirinya, sesamanya, dan masa depannya.

Merawat Tradisi hadir sebagai ruang berbagi pemikiran, perjalanan, dan ikhtiar kebudayaan KH Muhammad Yusuf Chudori. Website ini mengajak pembaca melihat pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai sumber nilai yang mampu memperkuat kebudayaan Indonesia dan menumbuhkan kepemimpinan Nahdlatul Ulama pada abad kedua.

JELAJAHI

Apa yang Akan Anda Temukan?

BUKU

Membaca buku, e-book, dan karya pemikiran mengenai pesantren, kebudayaan, serta kepemimpinan KH Muhammad Yusuf Chudori.

GAGASAN

Artikel, esai, dan refleksi yang menghubungkan tradisi dengan tantangan kehidupan Indonesia masa kini.

MEDIA

Video, dokumentasi, wawancara, dan rekaman perjalanan budaya yang memperkaya pengalaman membaca.

BUKU

Merawat Tradisi, Menumbuhkan Peradaban

Buku ini merekam perjalanan pemikiran KH Muhammad Yusuf Chudori tentang pesantren, kebudayaan, dan kepemimpinan Nahdlatul Ulama. Sebuah ikhtiar merawat tradisi agar tetap hidup, relevan, dan mampu menjadi fondasi membangun peradaban Indonesia pada abad kedua NU.

chatgpt image jul 11, 2026, 09 51 34 am
chatgpt image jul 12, 2026, 10 31 42 am

TOKOH

KH Muhammad Yusuf Chudori

Buku ini merekam perjalanan pemikiran KH Muhammad Yusuf Chudori tentang pesantren, kebudayaan, dan kepemimpinan Nahdlatul Ulama. Sebuah ikhtiar merawat tradisi agar tetap hidup, relevan, dan mampu menjadi fondasi membangun peradaban Indonesia pada abad kedua NU.

"Tradisi hidup karena dirawat, bukan sekadar diwariskan."

BUKU

Merawat Tradisi, Menumbuhkan Peradaban

Baca buku secara utuh mulai dari halaman sampul hingga penutup.
Setiap bagian disusun mengikuti urutan buku sehingga pengalaman
membacanya tetap seperti membuka sebuah buku cetak..

KESAKSIAN PENYUSUN Menyaksikan Sebuah Perjalanan Buku ini lahir bukan dari keinginan menulis biografi, apalagi menyusun kisah tentang seorang tokoh. Buku

Suatu hari, beberapa tokoh masyarakat dari sebuah desa datang sowan kepada Mbah Chudlori. Mereka membawa persoalan yang hampir memecah masyarakat.

Dari pesantren, nilai-nilai tersebut mengalir ke desa-desa. Ia hadir dalam tradisi tahlilan, kenduri, gotong royong, ronda malam, sambatan, hingga kebiasaan

Peradaban tidak hanya diuji ketika masyarakat hidup dalam keadaan tenang. Justru ukuran kedewasaan sebuah peradaban terlihat ketika ia menghadapi perbedaan.

Di dalam tradisi pesantren, tidak semua persoalan dijawab dengan kalimat yang panjang. Ada kalanya sebuah keputusan sederhana justru menyimpan kebijaksanaan

Dalam perjalanan lebih dari dua puluh tahun membersamai KH Muhammad Yusuf Chudlori, penyusun menemukan bahwa nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai

Di antara para ulama itu, berdirilah seorang alim yang kelak dikenang sebagai Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, muassis sekaligus Rais Akbar

Semakin lama saya menyaksikan perjalanan itu, semakin saya memahami bahwa yang sedang dirawat oleh Gus Yusuf adalah martabat manusia. Menyaksikan

Buku ini dipersembahkan dengan penuh hormat kepada para guru yang menyalakan ilmu, para kiai yang menjaga nilai, para seniman yang