Dari pesantren, nilai-nilai tersebut mengalir ke desa-desa. Ia hadir dalam tradisi tahlilan, kenduri, gotong royong, ronda malam, sambatan, hingga kebiasaan sederhana menyuguhkan segelas teh hangat kepada tamu yang baru datang. Bagi masyarakat desa, semua itu mungkin hanyalah bagian dari adat yang telah dilakukan turun-temurun. Namun sesungguhnya, di balik kebiasaan-kebiasaan sederhana itu, hidup sebuah pendidikan akhlak yang telah berlangsung selama berabad-abad.
اَلْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ جُنُونٌ، وَالْعَمَلُ بِلاَ عِلْمٍ لَا يَكُونُ
“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, sedangkan amal tanpa ilmu tidak akan pernah sempurna.”
— Imam Abu Hamid al-Ghazali
Selama ini tasawuf sering dipahami sebagai jalan sunyi yang menjauh dari keramaian dunia. Ia dibayangkan hidup di ruang-ruang khalwat, di balik lembaran kitab, atau dalam zikir yang panjang di sudut-sudut pesantren. Padahal, apabila menelusuri secara utuh warisan Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, khususnya pada pembahasan tentang persaudaraan, pergaulan, dan adab hidup bersama, kita akan menemukan bahwa puncak tasawuf bukanlah keterasingan dari masyarakat, melainkan lahirnya akhlak yang menghadirkan rahmat di tengah kehidupan.
Bagi Al-Ghazali, ilmu tidak berhenti ketika seseorang mampu menjelaskan dalil. Ilmu mencapai kesempurnaannya ketika menjelma menjadi laku hidup. Karena itulah Ihya’ Ulum al-Din tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana memuliakan tamu, menjaga persaudaraan, menghormati tetangga, menyembunyikan aib saudara, berbagi makanan, menahan amarah, mengalahkan kesombongan, dan merawat hati agar tetap dipenuhi kasih sayang. Tasawuf tidak dimaksudkan untuk menjauhkan manusia dari kehidupan sosial, melainkan menyucikan cara manusia menjalani kehidupan itu sendiri.
Barangkali inilah alasan mengapa Ihya’ Ulum al-Din menempati kedudukan yang sangat istimewa dalam tradisi keilmuan Pondok Pesantren API Tegalrejo. Kitab ini bukan sekadar dipelajari untuk memperkaya pengetahuan, melainkan untuk membentuk watak seorang santri. Sebab pesantren tidak hanya bercita-cita melahirkan orang yang alim, tetapi juga manusia yang lembut hatinya, jernih pikirannya, santun lisannya, dan menghadirkan ketenteraman bagi lingkungan sekitarnya.
Yang menarik, nilai-nilai itu tidak berhenti di ruang pengajian. Ia mengalir keluar dari pesantren, memasuki rumah-rumah warga, langgar-langgar desa, tradisi kenduri, tahlilan, gotong royong, hingga cara masyarakat menyambut tamu yang bahkan belum pernah mereka kenal sebelumnya. Kitab itu mungkin dibaca oleh para kiai dan santri, tetapi buahnya dipetik oleh masyarakat.
Di desa-desa kawasan lereng Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong, hingga Menoreh, penyusun berkali-kali menjumpai pemandangan yang hampir serupa. Ketika seorang tamu datang, pintu rumah terbuka tanpa banyak pertanyaan. Kalimat pertama yang terdengar bukanlah, “Siapa Anda?”, melainkan, “Monggo pinarak.” Belum lama duduk, tuan rumah telah berkata dengan tulus, “Dahar riyen, monggo.” Sering kali jamuan itu berasal dari dapur yang sangat sederhana, dari keluarga petani yang hidup jauh dari kata berkecukupan. Namun keramahan mereka tidak pernah dihitung berdasarkan isi lumbung, melainkan berdasarkan keluasan hati.
Mereka mungkin tidak pernah mengutip kalimat-kalimat Imam Al-Ghazali. Mereka mungkin tidak pernah menghafal bab demi bab dari Ihya’ Ulum al-Din. Namun siapa pun yang pernah menyelami kitab itu akan mengenali jejaknya dalam kehidupan masyarakat desa. Akhlak yang tumbuh secara alamiah itu bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan warisan panjang pendidikan pesantren yang meresap ke dalam kebudayaan masyarakat Nahdlatul Ulama.
Di sinilah penyusun mulai memahami bahwa tasawuf yang diajarkan para kiai ternyata tidak berhenti sebagai disiplin ilmu. Ia menjelma menjadi cara hidup. Ia menjadi cara menyapa orang lain, cara menghormati tamu, cara bekerja bersama, cara berbagi makanan, cara memandang alam, dan cara merawat persaudaraan. Ketika akhlak seperti itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, ia tidak lagi hanya menjadi ajaran agama. Ia telah berubah menjadi kebudayaan.
Dan mungkin, di titik inilah kita mulai memahami mengapa desa-desa yang tampak sederhana mampu melahirkan kekuatan sosial yang luar biasa. Sebab yang menopang kehidupan mereka bukan semata-mata ekonomi atau organisasi, melainkan akhlak yang hidup sebagai kebiasaan sehari-hari. Dari akhlak itulah tumbuh kepercayaan. Dari kepercayaan lahir gotong royong. Dari gotong royong lahir kebudayaan. Dan dari kebudayaan yang berakar pada akhlak itulah, peradaban perlahan bertumbuh.
1. Tasawuf Tidak Tinggal di Dalam Kitab
Bagi sebagian orang, tasawuf sering dibayangkan sebagai perjalanan spiritual yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ia identik dengan zikir yang panjang, uzlah, khalwat, atau laku-laku batin yang sunyi. Padahal, apabila kita menelusuri warisan Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, terutama pada pembahasan tentang persaudaraan, pergaulan, dan adab hidup bersama, kita akan menemukan sesuatu yang berbeda. Puncak tasawuf bukanlah ketika seseorang mampu berbicara tentang Allah dengan bahasa yang tinggi, melainkan ketika akhlaknya menghadirkan ketenteraman bagi manusia di sekitarnya.
Karena itulah, di lingkungan Pondok Pesantren API Tegalrejo, Ihya’ Ulum al-Din menempati kedudukan yang sangat istimewa. Kitab ini bukan sekadar dibaca untuk memperkaya wawasan keagamaan, tetapi untuk membentuk watak seorang santri. Sebab seorang santri tidak cukup hanya menjadi orang yang memahami hukum-hukum agama. Ia harus tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, menghormati sesama, menjaga lisannya, memuliakan tamu, mencintai persaudaraan, dan menghadirkan kasih sayang di tengah kehidupan masyarakat.
Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, ilmu mencapai kesempurnaannya ketika berubah menjadi amal. Amal mencapai kemuliaannya ketika melahirkan akhlak. Dan akhlak menemukan maknanya ketika menjadi rahmat bagi orang lain. Karena itu, tasawuf tidak pernah dimaksudkan untuk menjauhkan manusia dari kehidupan sosial. Justru sebaliknya, tasawuf membimbing manusia agar mampu hidup di tengah masyarakat tanpa kehilangan kejernihan hati.
Barangkali inilah yang membedakan tradisi pesantren Nusantara dengan banyak tradisi keilmuan lainnya. Pesantren tidak hanya mengajarkan bagaimana seorang santri beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana ia hidup bersama manusia. Bagaimana menghormati orang tua, menyayangi yang lebih muda, menjaga persaudaraan, menghargai perbedaan, menyembunyikan kekurangan saudaranya, serta tetap berbuat baik bahkan kepada orang yang berbeda pandangan dengannya. Nilai-nilai seperti itu tidak hanya diajarkan melalui pengajian kitab, tetapi diwariskan melalui keteladanan para kiai dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pesantren, nilai-nilai tersebut mengalir ke desa-desa. Ia hadir dalam tradisi tahlilan, kenduri, gotong royong, ronda malam, sambatan, hingga kebiasaan sederhana menyuguhkan segelas teh hangat kepada tamu yang baru datang. Bagi masyarakat desa, semua itu mungkin hanyalah bagian dari adat yang telah dilakukan turun-temurun. Namun sesungguhnya, di balik kebiasaan-kebiasaan sederhana itu, hidup sebuah pendidikan akhlak yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Mungkin banyak orang tidak pernah membaca Ihya’ Ulum al-Din. Mereka tidak mengenal istilah tazkiyatun nafs, ukhuwah, itsar, atau tawadhu’. Namun siapa pun yang pernah menyelami kitab itu akan dengan mudah mengenali jejaknya dalam kehidupan masyarakat desa. Ketika seorang tamu disambut dengan ucapan, “Monggo pinarak…”, ketika tuan rumah berkata dengan tulus, “Dahar riyen, monggo…”, ketika tetangga datang membantu tanpa diminta, ketika makanan dibagikan tanpa menghitung untung rugi, sesungguhnya yang sedang hidup bukan sekadar adat Jawa. Yang sedang hidup adalah akhlak yang telah lama dirawat oleh pesantren.
Selama lebih dari dua dekade membersamai perjalanan KH Muhammad Yusuf Chudlori, ada satu pemandangan yang tidak pernah berubah di ndalem beliau. Siapa pun yang datang—petani dari lereng gunung, seniman desa, buruh, mahasiswa, kiai, pejabat, wartawan, hingga tamu dari luar negeri—hampir selalu disambut dengan kalimat yang sama.
“Monggo pinarak… Dahar riyen, monggo.”
Kalimat itu diucapkan dengan sangat sederhana, seolah-olah tidak ada yang istimewa. Namun justru di situlah penyusun mulai memahami bahwa akhlak tidak pernah lahir dari pidato-pidato besar. Ia tumbuh dari kebiasaan yang terus dihidupkan. Memuliakan tamu bukanlah sebuah acara. Ia adalah cara hidup.
Yang menarik, suasana serupa tidak hanya penyusun jumpai di ndalem Gus Yusuf. Ketika berkeliling ke desa-desa di lereng Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, hingga Menoreh, kalimat yang sama kembali terdengar dari rumah-rumah para petani.
“Monggo pinarak…”
“Dahar riyen, monggo…”
Bahkan tidak jarang, hidangan itu disajikan oleh keluarga yang hidup dalam kesederhanaan. Mereka tidak pernah bertanya siapa tamunya, apa jabatannya, atau apa manfaat yang akan mereka peroleh. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana seorang tamu tidak pulang dalam keadaan lapar. Di balik kesederhanaan itu, penyusun melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar keramahan orang Jawa. Yang sedang bekerja adalah akhlak.
Pada saat itulah penyusun memahami bahwa nilai-nilai yang diajarkan di pesantren ternyata tidak berhenti di ruang pengajian. Ia mengalir melalui keteladanan para kiai, hidup di ndalem, lalu meresap ke tengah masyarakat hingga menjadi kebiasaan bersama. Barangkali masyarakat desa tidak pernah mengutip halaman demi halaman Ihya’ Ulum al-Din. Namun mereka menghidupi nilai-nilainya. Kitab itu tidak lagi hanya dibaca, tetapi telah menjelma menjadi cara menyambut tamu, cara berbagi rezeki, cara menghormati sesama, dan cara memuliakan kehidupan.
Di titik inilah penyusun mulai memahami bahwa tasawuf tidak tinggal di dalam kitab. Ia keluar dari pesantren melalui akhlak para kiai, hidup di rumah-rumah sederhana masyarakat desa, lalu perlahan menjelma menjadi kebudayaan. Dan ketika akhlak telah menjadi kebudayaan, sesungguhnya peradaban sedang bertumbuh—dengan tenang, tanpa banyak suara.
2. Ketika Ihya’ Hidup di Sebuah Desa
Banyak orang datang ke desa untuk menikmati pemandangan. Mereka mengagumi gunung yang menjulang, sawah yang menghijau, udara yang sejuk, atau matahari yang terbit di balik lereng Merapi dan Merbabu. Sebagian datang untuk menyaksikan Festival Lima Gunung, menikmati pertunjukan seni yang lahir dari tangan-tangan para petani, lalu pulang dengan membawa foto-foto yang indah.
Namun, selama lebih dari dua puluh tahun membersamai perjalanan kebudayaan di kawasan ini, penyusun justru menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada panggung pertunjukan.
Yang paling memikat bukanlah tariannya.
Bukan pula musiknya.
Melainkan manusia-manusianya.
Di desa-desa yang menjadi ruang hidup Komunitas Lima Gunung, penyusun melihat sesuatu yang perlahan semakin jarang ditemukan di kota-kota besar. Rumah-rumah yang pintunya selalu terbuka. Wajah-wajah yang mudah tersenyum. Orang-orang yang menyapa lebih dahulu meskipun belum pernah saling mengenal. Ibu-ibu yang tanpa canggung menghidangkan teh hangat dan makanan sederhana kepada tamu yang baru datang. Anak-anak muda yang mengangkat kursi, membersihkan halaman, atau membantu menata panggung tanpa pernah bertanya, “Saya dibayar berapa?”
Festival itu memang menampilkan kesenian.
Namun sesungguhnya yang sedang dipertontonkan adalah akhlak masyarakat desa.
Selama bertahun-tahun, Festival Lima Gunung mampu bertahan bukan karena memiliki modal finansial yang besar. Ia hidup karena memiliki modal yang jauh lebih mahal, yaitu kepercayaan. Tidak ada festival yang dapat berlangsung selama puluhan tahun hanya dengan proposal dan sponsor. Festival itu hidup karena masyarakat mempercayai satu sama lain. Mereka saling menitipkan tenaga, makanan, rumah, halaman, dapur, bahkan waktu mereka sendiri demi menyambut siapa pun yang datang.
Di balik panggung yang sederhana, dapur-dapur warga justru bekerja lebih sibuk daripada panggung pertunjukan. Sejak pagi, ibu-ibu menanak nasi, menyiapkan sayur, membuat teh, kopi, dan berbagai hidangan yang akan disuguhkan kepada tamu. Tidak ada daftar undangan khusus. Tidak ada klasifikasi tamu penting atau tamu biasa. Siapa pun yang datang adalah tamu yang harus dimuliakan.
Di titik itulah penyusun mulai bertanya kepada diri sendiri.
Dari mana semua kebiasaan itu berasal?
Mengapa masyarakat yang secara ekonomi hidup dalam kesederhanaan justru begitu ringan berbagi?
Mengapa gotong royong terasa begitu alami?
Mengapa mereka tidak sibuk menghitung untung dan rugi?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu ternyata tidak ditemukan di panggung festival.
Jawabannya hidup di langgar-langgar desa.
Di mushala kecil tempat tahlilan digelar.
Di majelis-majelis pengajian.
Di rumah-rumah para kiai.
Di tradisi pesantren yang selama puluhan bahkan ratusan tahun membentuk watak masyarakat.
Di sanalah tasawuf perlahan berubah menjadi kebudayaan.
Masyarakat mungkin tidak menyebutnya sebagai tazkiyatun nafs. Mereka tidak berbicara tentang maqam-maqam spiritual sebagaimana dibahas dalam kitab-kitab tasawuf. Namun mereka mempraktikkan buahnya. Mereka hidup dengan kerendahan hati, menghormati tamu, menjaga persaudaraan, saling membantu, dan menerima kehidupan dengan penuh syukur tanpa kehilangan semangat untuk terus bekerja.
Barangkali karena itulah KH Muhammad Yusuf Chudlori merasa begitu akrab dengan kehidupan masyarakat desa dan Komunitas Lima Gunung. Beliau tidak hanya melihat sebuah festival kesenian. Beliau membaca sesuatu yang lebih dalam. Di balik bunyi gamelan, tari-tarian rakyat, dan canda satir yang sering dilontarkan Sutanto Mendut, Gus Yusuf melihat akhlak yang menjadi penyangga seluruh kehidupan masyarakat.
Banyak orang datang untuk menikmati pertunjukan.
Gus Yusuf justru menikmati manusianya.
Beliau melihat bahwa kekuatan terbesar desa bukanlah panggungnya, melainkan watak masyarakatnya. Sebab selama akhlak itu tetap hidup, kebudayaan akan terus menemukan jalannya. Dan selama kebudayaan tetap hidup, peradaban tidak akan kehilangan akarnya.
3. Ketika “Goblok” Menjadi Jalan Menuju Tawadhu’
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Qad aflaha man zakkāhā. Wa qad khāba man dassāhā.
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams [91]: 9–10)
Tazkiyatun nafs bukan sekadar latihan spiritual untuk menjadi saleh secara pribadi. Ia adalah ikhtiar membersihkan hati dari kesombongan, iri hati, riya, dan rasa paling benar, agar kehadirannya menjadi rahmat bagi kehidupan bersama. Sebab pada akhirnya, inti penyucian jiwa adalah melahirkan manusia yang menghadirkan rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan.
Imam Abu Hamid al-Ghazali membangun bangunan tasawufnya di atas kesadaran bahwa perubahan masyarakat selalu berawal dari perubahan hati manusia. Sebelum seseorang memperbaiki dunia di luar dirinya, ia terlebih dahulu harus berani membersihkan dunia yang ada di dalam dirinya. Sebab peradaban yang besar tidak pernah lahir dari hati yang dipenuhi kesombongan, melainkan dari jiwa-jiwa yang ditempa oleh keikhlasan, kerendahan hati, dan kasih sayang.
Dalam Ihya’ Ulum al-Din, perjalanan itu dikenal sebagai tazkiyatun nafs—ikhtiar yang tidak pernah selesai untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang menghalangi manusia mengenali kebenaran. Bagi Al-Ghazali, perjalanan seorang mukmin sesungguhnya bukan dimulai dari upaya mengubah orang lain, melainkan dari keberanian menundukkan hawa nafsunya sendiri. Sebab sebesar apa pun ilmu yang dimiliki seseorang, apabila masih dipenuhi rasa ujub, takabur, riya, dan merasa paling benar, maka ilmu itu justru dapat menjadi hijab yang menjauhkannya dari Allah.
Karena itulah tasawuf tidak pernah mengajarkan manusia untuk merasa suci. Tasawuf justru mengajarkan manusia agar semakin mengenali kelemahan dirinya sendiri. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin rendah hatinya. Semakin luas pengetahuannya, semakin besar pula kesadarannya bahwa hanya Allah Yang Maha Mengetahui.
Barangkali dari sinilah lahir sikap tawadhu’ yang selama berabad-abad menjadi napas kehidupan pesantren. Tawadhu’ bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, melainkan kesanggupan menempatkan diri secara proporsional di hadapan Allah, di hadapan sesama manusia, dan di hadapan alam semesta. Orang yang tawadhu’ tidak sibuk membuktikan dirinya paling benar. Ia lebih sibuk memperbaiki dirinya sendiri.
Bagi Imam Al-Ghazali, perjalanan menuju Allah selalu dimulai dari keberanian mengenali diri sendiri. Sebab manusia yang mengenali kelemahan dirinya tidak akan mudah merendahkan orang lain. Ia menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah orang yang berbeda pendapat dengannya, melainkan hawa nafsu yang bersemayam di dalam dirinya sendiri. Dari kesadaran itulah lahir tawadhu’, dan dari tawadhu’ lahirlah kemampuan melihat kehidupan dengan lebih jernih.
Kesadaran inilah yang tanpa diduga penyusun temukan kembali ketika memasuki ruang-ruang kebudayaan Komunitas Lima Gunung.
Banyak orang memandang Sutanto Mendut sebagai seniman yang nyentrik. Bahasa-bahasanya sering terdengar kasar, liar, bahkan sengaja menabrak kelaziman. Tema-tema Festival Lima Gunung seperti “Makin Goblok Bareng” misalnya, sekilas terdengar seperti ajakan untuk merayakan kebodohan. Namun semakin lama mengikuti perjalanan komunitas ini, penyusun justru melihat bahwa kata goblok yang dipilih Sutanto bukanlah penghinaan terhadap akal manusia.
Ia sedang menyindir kesombongan manusia.
Di tengah zaman ketika setiap orang merasa paling pintar, paling benar, dan paling berhak menghakimi orang lain, Sutanto justru mengajak semua orang untuk berani mengakui keterbatasannya. Satire itu menjadi kritik terhadap ego manusia modern yang sering kali lebih sibuk mempertahankan pendapat daripada mencari kebenaran.
Dalam berbagai pidato dan pernyataannya, Sutanto hampir selalu mengulang satu paradoks yang menggelitik.
Festival Lima Gunung, katanya, tidak memiliki sponsor besar. Tidak bergantung pada bantuan pemerintah. Bahkan tidak disusun dengan logika proyek sebagaimana lazimnya sebuah perhelatan budaya. Festival itu tumbuh mengikuti denyut kehidupan desa. Ketika bertepatan dengan Saparan, Nyadran, atau Merti Desa, seluruh warga bergerak dengan sendirinya. Dapur-dapur mengepul sejak pagi. Rumah-rumah terbuka. Para petani, ibu-ibu, pemuda, dan anak-anak menyambut siapa saja yang datang sebagai tamu kehormatan.
Lalu dengan nada bercanda yang khas, Sutanto sering berkata,
“Silakan Inspektorat datang. Silakan Badan Pemeriksa Keuangan datang mengaudit Festival Lima Gunung.”
Orang-orang tertawa.
Padahal yang sedang ia sindir bukan auditor.
Melainkan cara kita memahami nilai.
Sebab bagaimana mungkin kepercayaan dapat diaudit?
Bagaimana gotong royong dapat dimasukkan ke dalam neraca keuangan?
Bagaimana kasih sayang seorang ibu yang memasak untuk ribuan tamu tanpa dibayar dapat diberi harga?
Dan bagaimana sebuah rumah yang terbuka bagi siapa saja dapat dicatat sebagai aset dalam laporan anggaran?
Barangkali apabila seluruh tenaga, makanan, rumah, waktu, dan pengorbanan masyarakat itu dihitung dengan ukuran ekonomi, nilainya mencapai miliaran rupiah. Namun seluruh kekayaan itu tidak lahir dari uang. Ia lahir dari kepercayaan.
Di sinilah penyusun melihat sesuatu yang sangat menarik ketika membersamai KH Muhammad Yusuf Chudlori.
Beliau tidak membaca Festival Lima Gunung semata sebagai festival seni.
Beliau membaca manusianya.
Beliau membaca akhlaknya.
Beliau membaca kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat.
Yang dibaca Gus Yusuf bukan hanya panggung pertunjukan, tetapi dapur-dapur yang mengepul sejak pagi. Bukan hanya gamelan yang ditabuh, tetapi tangan-tangan para ibu yang memasak untuk orang yang bahkan belum mereka kenal. Bukan hanya tari-tarian rakyat, tetapi kerelaan masyarakat membuka rumahnya tanpa menghitung untung rugi.
Di situlah penyusun perlahan memahami sesuatu.
Apa yang oleh Sutanto disebut sebagai biaya sosial, oleh Gus Yusuf dibaca sebagai buah dari tazkiyatun nafs.
Sebab manusia yang masih dikuasai kesombongan tidak akan mampu bergotong royong dengan tulus.
Manusia yang masih diperbudak ego tidak akan ringan memuliakan tamu.
Manusia yang masih sibuk mengejar pengakuan tidak akan sanggup bekerja tanpa panggung.
Sebaliknya, ketika hati telah dibersihkan dari penyakit-penyakitnya, lahirlah akhlak. Dari akhlak lahirlah kepercayaan. Dari kepercayaan lahirlah gotong royong. Dari gotong royong lahirlah kebudayaan. Dan dari kebudayaan yang berakar pada akhlak itulah, sebuah peradaban menemukan napasnya.
Barangkali di titik inilah Gus Yusuf menemukan persinggungan yang begitu indah antara pesantren dan desa. Sutanto Mendut menunjukkan buahnya. Pesantren menjaga akarnya. Yang satu berbicara dengan bahasa satir, yang lain berbicara dengan bahasa hikmah. Namun keduanya sama-sama mengingatkan bahwa sebuah bangsa tidak akan kehilangan masa depannya selama ia masih memiliki manusia-manusia yang rendah hati, saling percaya, dan rela hidup untuk sesamanya.
4. Akhlak adalah Modal Sosial Peradaban
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Bagi Rasulullah ﷺ, puncak risalah Islam bukan hanya membangun manusia yang taat beribadah, tetapi melahirkan manusia yang berakhlak mulia. Sebab akhlak bukan sekadar buah dari keimanan, melainkan fondasi bagi lahirnya kehidupan yang damai, saling percaya, dan berkeadaban.
Selama ini pembangunan sering diukur melalui angka-angka. Pertumbuhan ekonomi, panjang jalan, jumlah investasi, besarnya anggaran, atau tingginya gedung yang berhasil dibangun. Semua itu penting. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa tidak ada satu pun peradaban yang mampu bertahan hanya karena kekuatan ekonominya. Peradaban selalu berdiri di atas sesuatu yang lebih mendasar, yaitu kepercayaan.
Kepercayaan tidak dapat dibangun melalui regulasi semata. Ia tidak dapat dibeli oleh anggaran. Ia juga tidak lahir dari pidato-pidato yang indah. Kepercayaan tumbuh perlahan melalui akhlak. Ketika manusia menepati janji, menghormati sesama, memuliakan tamu, menjaga amanah, ringan berbagi, serta rela mendahulukan kepentingan bersama, pada saat itulah kepercayaan mulai tumbuh. Dan ketika kepercayaan telah menjadi kebiasaan hidup, masyarakat memperoleh modal sosial yang jauh lebih berharga daripada modal ekonomi.
Barangkali inilah pelajaran terbesar yang dapat dibaca dari kehidupan desa-desa di lereng Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, hingga Menoreh. Masyarakat tidak pernah menyebutnya sebagai teori modal sosial. Mereka hanya menjalani kehidupan sebagaimana diwariskan oleh orang tua dan para kiai mereka. Namun justru karena itulah nilai-nilai tersebut bertahan. Ia tidak dipraktikkan karena menjadi program pemerintah atau proyek pembangunan, melainkan karena telah menjadi bagian dari cara hidup.
Di sinilah penyusun melihat perjalanan KH Muhammad Yusuf Chudlori menemukan konteksnya. Beliau tidak pernah memisahkan pesantren dari kehidupan masyarakat. Beliau juga tidak memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang berada di luar agama. Bagi Gus Yusuf, kebudayaan adalah ruang tempat akhlak diuji setiap hari. Ketika masyarakat tetap menjaga persaudaraan di tengah perbedaan, ketika gotong royong lebih kuat daripada kepentingan pribadi, ketika tamu tetap dimuliakan tanpa memandang latar belakangnya, di situlah nilai-nilai pesantren sedang hidup dalam wajah kebudayaan.
Cara pandang seperti ini menjadikan kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu yang harus dilestarikan. Kebudayaan adalah ruang pendidikan yang terus membentuk manusia. Ia mengajarkan kerendahan hati, kesabaran, penghormatan kepada kehidupan, serta kemampuan hidup bersama dalam perbedaan. Oleh karena itu, merawat kebudayaan sesungguhnya bukan semata-mata menjaga tradisi, melainkan menjaga ruang tempat akhlak terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di titik inilah penyusun memahami mengapa Gus Yusuf begitu tekun membersamai para petani, seniman, pemuda, komunitas desa, hingga berbagai ruang kebudayaan. Beliau tidak sedang mencari popularitas di tengah masyarakat. Beliau sedang merawat mata air yang selama ini menjadi kekuatan terbesar bangsa Indonesia: akhlak yang hidup dalam masyarakat.
Bagi Gus Yusuf, pesantren tidak cukup hanya melahirkan orang-orang yang memahami kitab. Pesantren harus melahirkan manusia yang mampu menghadirkan ketenteraman di mana pun ia berada. Sebab ukuran keberhasilan pendidikan Islam bukan hanya bertambahnya ilmu, tetapi bertambahnya manfaat bagi kehidupan.
Dari sinilah penyusun mulai memahami bahwa Fiqih Peradaban bukan pertama-tama berbicara tentang hukum. Ia juga bukan sekadar berbicara tentang peradaban dunia Islam. Fiqih Peradaban berangkat dari pertanyaan yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih mendasar:
Bagaimana manusia dapat hidup bersama secara bermartabat?
Jawaban Gus Yusuf tidak dimulai dari ruang sidang atau forum politik.
Beliau memulainya dari pesantren.
Dari dapur-dapur masyarakat.
Dari sawah.
Dari langgar kecil.
Dari rumah-rumah yang selalu terbuka untuk tamu.
Dari senyum para petani.
Dari gotong royong yang tidak mengenal kuitansi.
Dari tangan-tangan sederhana yang tidak pernah berhenti memberi.
Karena di sanalah akhlak bertumbuh.
Dan ketika akhlak telah menjadi kebiasaan hidup, ia menjelma menjadi kebudayaan.
Ketika kebudayaan dipenuhi akhlak, ia melahirkan kepercayaan.
Ketika kepercayaan telah menjadi milik bersama, lahirlah modal sosial.
Dan di atas modal sosial itulah, sebuah peradaban akan berdiri dengan kokoh.
5. Sakinah Sosial: Wajah Aswaja dalam Kehidupan Desa.
Hadis Nabi Muhammad ﷺ tentang makārimal akhlāq mengajarkan bahwa kemuliaan akhlak bukanlah pelengkap agama, melainkan tujuan dari diutusnya risalah Islam. Pesan inilah yang kemudian hidup dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Aqidah yang diwariskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi tidak berhenti pada pembahasan tentang sifat-sifat Allah atau perdebatan teologis. Aqidah itu membentuk cara manusia memandang kehidupan.
Dalam pandangan Asy’ariyah, manusia diperintahkan untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menggantungkan ketenteraman hatinya kepada hasil ikhtiarnya. Ada ruang yang menjadi wilayah usaha manusia, tetapi ada pula ruang yang sepenuhnya menjadi kehendak Allah. Di situlah seorang mukmin belajar menerima qadha dan qadar dengan penuh kerelaan, tanpa kehilangan semangat untuk terus berbuat baik.
Cara pandang seperti inilah yang selama berabad-abad membentuk watak masyarakat Nahdlatul Ulama. Mereka bekerja keras, tetapi tidak mudah putus asa ketika hasilnya belum sesuai harapan. Mereka berusaha sekuat tenaga, tetapi tidak membiarkan kegagalan berubah menjadi kebencian kepada kehidupan. Mereka memahami bahwa manusia berkewajiban menanam, sedangkan Allah-lah yang menumbuhkan.
Pemandangan seperti itu sangat mudah ditemukan di desa-desa. Seorang petani tentu berharap hujan turun pada waktunya, hasil panen melimpah, harga gabah membaik, dan kebijakan pemerintah berpihak kepada petani. Semua itu adalah harapan yang wajar dan bagian dari ikhtiar. Namun ketika musim berubah, harga turun, atau keadaan tidak berpihak, mereka tetap berangkat ke sawah pada keesokan harinya. Tetap mencangkul. Tetap menanam. Tetap merawat tanaman dengan kesungguhan yang sama.
Bukan karena mereka pasrah tanpa daya.
Tetapi karena mereka memahami perbedaan antara ikhtiar dan hasil.
Ikhtiar adalah tanggung jawab manusia.
Hasil adalah wilayah Allah.
Di sinilah aqidah bertemu dengan tasawuf. Keyakinan kepada qadha dan qadar tidak melahirkan kemalasan, tetapi justru melahirkan keteguhan hati. Hati menjadi tenang, sementara tangan tetap bekerja. Dalam tradisi Jawa yang tumbuh bersama pesantren, sikap seperti itu dikenal dengan ungkapan eling lan waspada.
Eling, bahwa manusia hanyalah hamba yang memiliki keterbatasan.
Waspada, agar hati tidak dikuasai kesombongan ketika berhasil, dan tidak tenggelam dalam keputusasaan ketika gagal.
Falsafah itu kemudian menemukan ungkapannya yang sangat dikenal dalam dakwah Sunan Kalijaga:
Ngeli, nanging ora keli.
Mengikuti arus perubahan zaman, tetapi tidak hanyut kehilangan arah.
Bergaul dengan siapa saja, tetapi tidak kehilangan jati diri.
Menerima perubahan, tetapi tetap menjaga nilai-nilai yang menjadi akar kehidupan.
Barangkali inilah yang membuat masyarakat desa memiliki ketangguhan yang sering luput dari perhatian. Mereka mungkin tidak mengenal istilah social resilience atau social capital. Mereka tidak pernah membahas teori pembangunan dalam seminar-seminar akademik. Namun mereka mempraktikkannya setiap hari melalui gotong royong, rasa syukur, penghormatan kepada tamu, kesediaan berbagi, dan kesanggupan hidup berdampingan di tengah berbagai perbedaan.
Penyusun menyebut keadaan ini sebagai sakinah sosial. Sebuah ketenteraman yang tidak berhenti pada diri seseorang, tetapi memancar menjadi ketenteraman dalam kehidupan bersama. Orang saling percaya. Tetangga saling menjaga. Perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. Gotong royong tetap hidup tanpa menunggu perintah. Masyarakat tetap bergerak, bukan karena rasa takut, melainkan karena kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari satu keluarga besar.
Di titik inilah penyusun memahami cara pandang KH Muhammad Yusuf Chudlori. Beliau tidak pernah memisahkan aqidah, tasawuf, dan kebudayaan. Ketiganya bertemu dalam kehidupan masyarakat. Aqidah menumbuhkan keyakinan. Tasawuf membersihkan hati. Akhlak menjadikan keyakinan itu hadir dalam tindakan. Dan kebudayaan menjadi ruang tempat akhlak diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Barangkali di sinilah letak kekuatan terbesar Nahdlatul Ulama yang sering kali tidak terlihat oleh mata. Selama satu abad lebih perjalanannya, NU bukan hanya membangun organisasi, mendirikan ribuan pesantren, atau melahirkan banyak ulama. Yang jauh lebih penting, NU merawat sebuah cara hidup. Cara hidup yang menjadikan aqidah sebagai fondasi keyakinan, tasawuf sebagai jalan membersihkan hati, akhlak sebagai watak kehidupan, dan kebudayaan sebagai ruang tempat seluruh nilai itu bertumbuh secara alami di tengah masyarakat.
Di desa-desa yang hidup bersama tradisi pesantren, nilai-nilai itu hadir tanpa banyak slogan. Ia hidup dalam sapaan monggo pinarak, dalam ajakan dahar riyen, dalam tangan-tangan yang bergotong royong tanpa diminta, dalam rumah-rumah yang selalu terbuka bagi tamu, dalam para petani yang tetap menanam meskipun musim tidak selalu berpihak, dan dalam kesediaan masyarakat menjaga persaudaraan meskipun berbeda pandangan. Mungkin mereka tidak pernah menyebutnya sebagai teori modal sosial. Namun sesungguhnya mereka sedang membangun fondasi peradaban melalui akhlak yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di titik inilah penyusun memahami perjalanan KH Muhammad Yusuf Chudlori. Selama ini beliau tidak sekadar merawat pesantren sebagai lembaga pendidikan, atau membersamai kebudayaan sebagai ruang ekspresi masyarakat. Yang sesungguhnya beliau rawat adalah mata rantai akhlak yang menghubungkan pesantren dengan kehidupan sosial. Sebab beliau meyakini, selama akhlak tetap hidup, masyarakat akan tetap memiliki kepercayaan. Selama kepercayaan tetap hidup, gotong royong tidak akan pernah kehilangan makna. Dan selama gotong royong tetap menjadi budaya, bangsa ini akan selalu memiliki modal sosial untuk menghadapi perubahan zaman.
Barangkali karena itulah Fiqih Peradaban yang diperjuangkan Gus Yusuf tidak berhenti pada ruang fatwa atau perdebatan hukum. Fiqih Peradaban hadir sebagai ikhtiar menghadirkan kemaslahatan melalui manusia-manusia yang berakhlak. Sebab hukum dapat mengatur perilaku, tetapi hanya akhlak yang mampu membangun kepercayaan. Dan hanya masyarakat yang saling percaya yang mampu melahirkan peradaban yang kokoh.
Pada akhirnya, penyusun sampai pada satu keyakinan sederhana. Pesantren menanamkan aqidah. Aqidah melahirkan tasawuf. Tasawuf membentuk akhlak. Akhlak menjelma menjadi kebudayaan. Kebudayaan melahirkan kepercayaan. Kepercayaan menjadi modal sosial. Dan di atas modal sosial itulah sebuah peradaban dibangun.
Mungkin inilah makna terdalam dari merawat tradisi. Bukan mempertahankan romantisme masa lalu, melainkan menjaga mata air akhlak agar terus mengalir kepada generasi berikutnya. Sebab selama akhlak tetap hidup, kebudayaan akan selalu menemukan rohnya. Dan selama kebudayaan tetap berakar pada akhlak, peradaban akan terus bertumbuh tanpa kehilangan jati dirinya.