KESAKSIAN PENYUSUN

Semakin lama saya menyaksikan perjalanan itu, semakin saya memahami bahwa yang sedang dirawat oleh Gus Yusuf adalah martabat manusia.

Menyaksikan Sebuah Perjalanan

Buku ini lahir bukan dari keinginan menulis biografi, apalagi menyusun kisah tentang seorang tokoh. Buku ini tumbuh dari sebuah ikhtiar sederhana: merawat buih-buih hikmah yang saya temukan sepanjang menyaksikan perjalanan KH Muhammad Yusuf Chudlori selama lebih dari dua puluh tahun.

Saya menyadari, tidak semua perjalanan hidup harus dituliskan. Tetapi ada perjalanan yang sayang jika dibiarkan hilang bersama waktu. Sebab di dalamnya tersimpan pelajaran tentang bagaimana seseorang memandang manusia, memaknai pengabdian, dan menjalani kehidupan tanpa banyak suara.

Selama bertahun-tahun saya melihat Gus Yusuf berada di ruang-ruang yang berbeda. Pagi hari beliau dapat duduk bersama petani di lereng Merapi, mendengarkan cerita tentang hasil panen, musim yang berubah, atau harga pupuk yang terus naik. Di kesempatan lain, beliau larut dalam perbincangan bersama para seniman desa, budayawan, dan masyarakat adat, membicarakan gamelan, tradisi, dan kehidupan kampung. Pada waktu yang lain, saya melihat beliau berdialog dengan para akademisi, tokoh nasional, seniman, dan artis yang datang membawa kegelisahan mereka masing-masing.

Yang menarik, saya tidak pernah melihat adanya sekat.

Tidak ada perbedaan cara beliau menerima seorang petani dengan seorang profesor.

Tidak ada perbedaan cara beliau mendengarkan seorang seniman desa dengan seorang tokoh nasional.

Semua diterima sebagai manusia.

Barangkali, pelajaran paling berharga justru saya temukan bukan di forum-forum besar, melainkan di ruang tamu rumah beliau.

Suatu hari saya menyaksikan seorang bapak dari sebuah desa datang dengan pakaian lusuh. Ia tidak datang meminta fatwa. Tidak pula meminta doa. Dengan wajah yang menahan malu, ia hanya berkata bahwa hari itu keluarganya tidak memiliki sesuatu untuk dimakan.

Gus Yusuf tidak banyak bertanya.

Beliau tidak menghakimi.

Tidak pula memberi nasihat panjang.

Dengan tenang beliau mengambil sesuatu sekadarnya, lalu menyerahkannya agar lelaki itu dapat membeli makanan untuk keluarganya hari itu.

Peristiwa itu berlangsung begitu sederhana.

Mungkin hanya beberapa menit.

Tetapi bagi saya, di situlah saya belajar bahwa kasih sayang sering kali hadir bukan dalam kata-kata yang besar, melainkan dalam kepekaan melihat kesulitan orang lain.

Ruang tamu itu kemudian menjadi tempat saya menyaksikan banyak kisah yang lain.

Ada yang datang membawa persoalan ekonomi.

Ada yang memohon petunjuk tentang rumah tangga.

Ada yang gelisah menghadapi masa depan anak-anaknya.

Ada yang memikul persoalan umat.

Ada pula yang sekadar membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.

Saya melihat semuanya diterima dengan keteduhan yang sama.

Tanpa membedakan asal-usulnya.

Tanpa membedakan latar belakangnya.

Tanpa membedakan kedudukan sosialnya.

Semakin lama saya menyaksikan perjalanan itu, semakin saya memahami bahwa yang sedang dirawat oleh Gus Yusuf bukan hanya pesantren, bukan hanya tradisi, bukan pula sekadar hubungan antarmanusia.

Yang beliau rawat adalah martabat manusia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *