chatgpt image jul 17, 2026, 10 23 22 pm

MERAWAT TRADISI

Bagian Awal

Kesaksian Penyusun


8 menit membaca

"Tidak semua perjalanan layak dituliskan. Namun ada perjalanan yang perlu disaksikan, agar nilai-nilai yang hidup di dalamnya tidak ikut hilang bersama waktu."

— Sholahuddin Al Ahmed

KESAKSIAN PENYUSUN

Menyaksikan Sebuah Perjalanan


Buku ini lahir bukan dari keinginan menulis biografi, apalagi menyusun kisah tentang seorang tokoh. Buku ini tumbuh dari sebuah ikhtiar sederhana: merawat buih-buih hikmah yang saya temukan sepanjang menyaksikan perjalanan KH Muhammad Yusuf Chudlori selama lebih dari dua puluh tahun.

Saya menyadari, tidak semua perjalanan hidup harus dituliskan. Tetapi ada perjalanan yang sayang jika dibiarkan hilang bersama waktu. Sebab di dalamnya tersimpan pelajaran tentang bagaimana seseorang memandang manusia, memaknai pengabdian, dan menjalani kehidupan tanpa banyak suara.

Selama bertahun-tahun saya melihat Gus Yusuf berada di ruang-ruang yang berbeda. Pagi hari beliau dapat duduk bersama petani di lereng Merapi, mendengarkan cerita tentang hasil panen, musim yang berubah, atau harga pupuk yang terus naik.




Martabat manusia selalu lebih dahulu daripada identitasnya.


Di kesempatan lain, beliau larut dalam perbincangan bersama para seniman desa, budayawan, dan masyarakat adat, membicarakan gamelan, tradisi, dan kehidupan kampung. Pada waktu yang lain, saya melihat beliau berdialog dengan para akademisi, tokoh nasional, seniman, dan artis yang datang membawa kegelisahan mereka masing-masing.

Yang menarik, saya tidak pernah melihat adanya sekat.

Tidak ada perbedaan cara beliau menerima seorang petani dengan seorang
profesor.

Tidak ada perbedaan cara beliau mendengarkan seorang seniman desa dengan seorang tokoh nasional.

Semua diterima sebagai manusia.


chatgpt image jul 17, 2026, 10 58 04 pm

Barangkali, pelajaran paling berharga justru saya temukan bukan di forum-forum besar, melainkan di ruang tamu rumah beliau.

Suatu hari saya menyaksikan seorang bapak dari sebuah desa datang dengan pakaian lusuh. Ia tidak datang meminta fatwa. Tidak pula meminta doa. Dengan wajah yang menahan malu, ia hanya berkata bahwa hari itu keluarganya tidak memiliki sesuatu untuk dimakan.

Gus Yusuf tidak banyak bertanya.

Beliau tidak menghakimi.

Tidak pula memberi nasihat panjang.

Dengan tenang beliau mengambil sesuatu sekadarnya, lalu menyerahkannya agar lelaki itu dapat membeli makanan untuk keluarganya hari itu.

Peristiwa itu berlangsung begitu sederhana.

Mungkin hanya beberapa menit.

Tetapi bagi saya, di situlah saya belajar bahwa kasih sayang sering kali hadir bukan dalam kata-kata yang besar, melainkan dalam kepekaan melihat kesulitan orang lain.

Ruang tamu itu kemudian menjadi tempat saya menyaksikan banyak kisah yang lain.

Ada yang datang membawa persoalan ekonomi.

Ada yang memohon petunjuk tentang rumah tangga.

Ada yang gelisah menghadapi masa depan anak-anaknya.Ada yang memikul persoalan umat.

Ada pula yang sekadar membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.

Saya melihat semuanya diterima dengan keteduhan yang sama.

Tanpa membedakan asal-usulnya.

Tanpa membedakan latar belakangnya.

Tanpa membedakan kedudukan sosialnya.

chatgpt image jul 18, 2026, 06 26 16 am

Semakin lama saya menyaksikan perjalanan itu, semakin saya memahami bahwa yang sedang dirawat oleh Gus Yusuf bukan hanya pesantren, bukan hanya tradisi, bukan pula sekadar hubungan antarmanusia.

Yang beliau rawat adalah martabat manusia.

Barangkali karena itulah saya merasa buku ini perlu ditulis.

Bukan untuk mengabadikan seseorang.


Tetapi untuk mengabadikan nilai-nilai yang hidup melalui perjalanan seseorang.

Sebab saya percaya, tokoh boleh berganti, zaman boleh berubah, tetapi nilai-nilai yang dirawat dengan ketulusan akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup dan memberi makna bagi generasi yang akan datang.

Saya masih mengingat dengan jelas perjumpaan-perjumpaan awal itu.Saat itu saya masih aktif sebagai jurnalis Harian Suara Merdeka yang bertugas di wilayah Magelang.

Tugas jurnalistik membawa saya ke banyak tempat dan mempertemukan saya dengan banyak tokoh. Namun ada satu tempat yang selalu menghadirkan perasaan berbeda setiap kali saya datang: ndalem keluarga

Pondok Pesantren API Tegalrejo.Barangkali karena sejak kecil saya tumbuh dalam lingkungan pesantren, lalu ketika menjadi mahasiswa pernah menimba ilmu di Pesantren Luhur Dondong Semarang, setiap kali melangkahkan kaki ke API saya tidak merasa sedang menjalankan tugas peliputan. Ada perasaan yang sulit dijelaskan—seolah saya sedang pulang ke rumah yang telah lama saya kenal.




Ada rumah-rumah yang tidak kita lahiri, tetapi diam-diam mengajarkan arti pulang


Di pendopo pesantren, di ruang tamu ndalem, atau di sela-sela berbagai kegiatan, saya mulai mengenal sosok Gus Yusuf. Saat itu saya masih menjumpai almarhum KH Abdurrahman Chudlori—yang akrab disapa Mbah Dur—mengasuh pesantren dengan keteguhan sekaligus kasih sayang. Dari beliau saya menyaksikan bagaimana seorang kakak membimbing adiknya, bukan hanya mewariskan kepemimpinan pesantren, tetapi juga membentuk cara memandang kehidupan.

Di sisi lain, saya juga melihat KH Ahmad Muhammad Chudlori, atau yang akrab disapa Gus Muh Muh, yang menaruh perhatian besar pada dunia seni dan kebudayaan. Dari beliau saya belajar bahwa pesantren tidak pernah kehilangan ruang untuk berdialog dengan kesenian dan tradisi masyarakat.

Di antara dua sosok itulah Gus Yusuf bertumbuh.Beliau tidak hanya ditempa untuk mengasuh pesantren, tetapi juga diberi ruang yang luas untuk belajar dari kehidupan. Mbah Dur seakan tidak ingin Gus Yusuf hanya menjadi kiai yang tinggal di dalam pagar pesantren. Beliau justru didorong keluar, menjumpai masyarakat, membangun jejaring, mendengarkan persoalan mereka, dan hadir di tengah kehidupan yang nyata.

tugu mental

Barangkali dari sinilah saya mulai memahami mengapa perjalanan Gus Yusuf begitu berbeda.

Beliau tidak menunggu masyarakat datang ke pesantren.

Beliaulah yang mendatangi masyarakat.

Beliau hadir di desa-desa, di ruang-ruang kebudayaan, di tengah para petani, pemuda, bahkan di sudut-sudut jalan tempat anak-anak muda yang sering dicap nakal berkumpul.

Yang menarik, beliau tidak datang untuk menghakimi.

Tidak datang untuk memberi cap benar atau salah.Beliau datang untuk berteman.

Saya masih ingat bagaimana anak-anak muda yang dahulu dikenal dengan kebiasaan blayer-blayer menggunakan sepeda motor RX King perlahan mulai akrab dengan pesantren. Mereka menemukan ruang baru untuk berkumpul, belajar, dan mengaji bersama. Dari proses itulah kemudian lahir Laskar Pinggiran—sebuah komunitas yang menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu dimulai dari mimbar, tetapi dapat tumbuh dari persahabatan dan kepercayaan.

Sebagai wartawan, seharusnya hubungan saya dengan Gus Yusuf selesai ketika wawancara berakhir atau berita selesai ditulis.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Saya merasa terbawa dalam sebuah perjalanan yang tidak lagi dibatasi oleh profesi.

Rumah beliau perlahan menjadi tempat saya belajar. Bukan melalui ruang kelas atau forum resmi, melainkan melalui percakapan-percakapan sederhana, perjalanan ke desa-desa, perjumpaan dengan para seniman, budayawan, petani, hingga berbagai kegiatan sosial yang memperlihatkan bagaimana pengabdian dijalankan sebagai laku kehidupan.


Perjalanan ini mengajarkan bahwa manusia tidak selalu berubah karena dinasihati. Sering kali, mereka berubah karena merasa diterima.


Kedekatan itu semakin tumbuh ketika saya ikut membersamai berbagai ikhtiar kemasyarakatan yang beliau rintis. Salah satunya ketika PPSM Magelang menghadapi masa-masa sulit. Di tengah keterbatasan dukungan, beliau memilih mempertahankan klub itu dengan semangat gotong royong, sebagaimana orang merawat sebuah keluarga.

Di mata sebagian orang, sepak bola hanyalah pertandingan.

Namun di mata Gus Yusuf, sepak bola adalah ruang membangun masyarakat.

Beliau sering menyampaikan bahwa stadion seharusnya menjadi tempat keluarga bergembira, tempat anak-anak belajar mencintai daerahnya, tempat para ibu merasa aman mendampingi putra-putrinya, dan tempat anak-anak muda menemukan kebanggaan tanpa harus tenggelam dalam kekerasan, narkoba, atau permusuhan.

Dari berbagai perjumpaan itulah saya mulai memahami bahwa yang sedang beliau bangun sesungguhnya bukan hanya pesantren, bukan hanya komunitas, bahkan bukan hanya organisasi.

Yang beliau bangun adalah kepercayaan.

Dan dari kepercayaan itulah lahir persaudaraan, pengabdian, serta harapan yang terus tumbuh di tengah masyarakat.

Seiring bertambahnya usia, saya semakin menyadari bahwa pelajaran paling berharga dari perjalanan Gus Yusuf bukanlah tentang bagaimana seseorang mencapai posisi tertentu dalam kehidupan. Yang paling membekas justru adalah bagaimana seseorang memilih tetap istiqamah merawat jalan pengabdiannya.

Banyak orang mengenal Gus Yusuf melalui ruang-ruang publik yang berbeda-beda. Ada yang mengenalnya sebagai pengasuh pesantren, ada yang mengenalnya sebagai tokoh masyarakat, ada yang melihat kiprahnya di organisasi, ada pula yang mengenalnya melalui berbagai ruang pengabdian sosial. Namun semakin lama saya menyaksikan perjalanan beliau, semakin saya memahami bahwa semua itu sesungguhnya berangkat dari satu mata air yang sama: pesantren.

Bagi Gus Yusuf, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Pesantren adalah cara memandang kehidupan.

Cara menghormati guru.

Cara memuliakan ilmu.

Cara merawat masyarakat.

Dan cara mengabdi kepada bangsa.

Barangkali pandangan itu tidak lahir begitu saja.


Nilai-nilai pesantren tidak berhenti di dalam pagar. Ia hidup setiap kali menjumpai masyarakat, menyatukan beragam komunitas, dan menghadirkan harapan bagi kehidupan bersama

Ia tumbuh dari sejarah panjang Pondok Pesantren API Tegalrejo yang didirikan oleh KH Chudlori pada tahun 1944. Pesantren ini lahir pada masa-masa sulit menjelang kemerdekaan. Ketika Agresi Militer Belanda meletus pada 1948–1949, API Tegalrejo menjadi salah satu tempat yang ikut menopang perjuangan para gerilyawan. Para santri diberi kesempatan untuk turut mempertahankan kemerdekaan. Akibatnya, Belanda membakar bangunan pesantren beserta kitab-kitab yang menjadi sumber ilmu para santri. Selama hampir satu tahun kegiatan pesantren terhenti, sebelum kemudian dibangun kembali bersama masyarakat dengan semangat yang tidak pernah padam.

Saya sering membayangkan, sejarah seperti itulah yang diwariskan dari generasi ke generasi di API Tegalrejo. Bahwa pesantren tidak pernah berdiri hanya untuk dirinya sendiri.

Sejak awal, pesantren tumbuh bersama masyarakat, ikut merasakan penderitaan rakyat, menjaga harapan ketika keadaan sulit, dan tetap menyalakan ilmu bahkan ketika bangunannya telah menjadi abu.

Warisan sejarah itulah yang, menurut hemat saya, membentuk cara Gus Yusuf memandang pengabdian.Beliau tidak melihat pesantren sebagai sebuah bangunan yang dibatasi tembok-tembok asrama.

Pesantren adalah kehidupan itu sendiri.Karena itulah beliau memilih hadir di desa-desa, menjumpai para petani, menemani para seniman, berdialog dengan anak-anak muda, menggerakkan organisasi, hingga membangun ruang-ruang sosial yang mempertemukan banyak orang.

chatgpt image jul 17, 2026, 11 01 58 pm

Bukan karena ingin berada di mana-mana.

Tetapi karena beliau meyakini bahwa pesantren hanya akan tetap hidup apabila terus menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat.

Dari perjalanan itulah saya perlahan memahami bahwa yang sedang diperjuangkan Gus Yusuf bukan semata-mata keberlangsungan sebuah lembaga pesantren.

Yang beliau perjuangkan adalah agar nilai-nilai pesantren tetap hidup di tengah masyarakat yang terus berubah.

Sebab sejarah telah mengajarkan kepada kita, pesantren ikut melahirkan kesadaran kebangsaan, membentuk karakter para pejuang, dan menjadi bagian dari ikhtiar mempertahankan kemerdekaan. Hari ini, ketika tantangan bangsa berubah, pengabdian pesantren pun dituntut menemukan bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan akar nilai yang diwariskan para pendahulunya.

Barangkali di situlah saya menemukan satu pelajaran yang paling saya ingat dari perjalanan Gus Yusuf.Bahwa tugas pesantren bukan sekadar mencetak santri.

Tetapi terus menghadirkan harapan bagi masyarakat.

Karena selama pesantren tetap menjadi rumah bagi masyarakat, selama itu pula ia akan tetap menjadi salah satu tiang penting yang menyangga peradaban Indonesia.

Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menyaksikan perjalanan seseorang.

Saya tidak pernah merasa sedang mengikuti perjalanan seorang tokoh. Saya justru merasa sedang belajar memahami sebuah cara memandang kehidupan.Semakin lama saya mengenal Gus Yusuf, semakin saya mengerti bahwa yang sedang beliau perjuangkan bukanlah sekadar pesantren, bukan pula organisasi, jabatan, atau pengaruh. Semua itu hanyalah ruang pengabdian yang suatu hari akan berganti.

Yang tetap hidup adalah nilai-nilai yang dirawat di dalamnya.


Beliau mengajarkan bahwa pesantren bukan hanya tempat mendidik santri, tetapi tempat merawat manusia.

Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan cara menjaga martabat kehidupan.

Kepemimpinan bukanlah tentang berada di depan, melainkan tentang kesediaan berjalan bersama mereka yang sering kali tidak terlihat.

Barangkali karena itulah saya merasa buku ini perlu ditulis.

Bukan untuk mengabadikan seorang KH Muhammad Yusuf Chudlori.

Melainkan untuk merawat gagasan-gagasan yang saya saksikan tumbuh dalam perjalanan hidupnya.Saya percaya, tokoh akan berganti pada setiap zamannya. Kepemimpinan pun akan terus mengalami estafet.

Namun selama masih ada orang-orang yang memilih merawat ilmu, merawat tradisi, merawat kebudayaan, dan merawat sesamanya, selama itu pula harapan akan selalu menemukan jalannya.Buku ini hanyalah sebuah ikhtiar kecil untuk menyimpan sebagian dari buih-buih hikmah yang saya temukan sepanjang perjalanan itu.

Selebihnya, biarlah pembaca sendiri yang melanjutkan penjelajahannya, menemukan makna, lalu menuliskan bab-bab baru dalam ikhtiar merawat tradisi dan menumbuhkan peradaban.